Mungkin bagimu aku bukanlah siapa- siapa, bukan teman dekatmu, bukan pula sahabat karibmu, tapi selama ini aku telah menganggapmu sebagai temanku yang baik. Aku tahu, sebagian besar kata yang pernah keluar dari mulut manismu hanyalah anonim, bukan suatu kesungguhan. Mungkin selama ini dirimu bermaksud untuk tidak membuat diriku terluka, tapi justru sebaliknya. Bagimu semua itu biasa- biasa saja, tapi engkau tidak melihat ke sisi dalam hatiku, tentang bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya, jujur aku terluka. Tapi aku tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengatakan padamu bahwa hatiku menangis akan sikapmu yang acuh terhadapku. Sadarkah kau betapa sakitnya luka yang kau hampirkan padaku? aku telah mencoba menjadi yang terbaik untukmu, tapi mengapa semua usahaku telah kau tepis? tidak pula engkau menghargainya. Saat ini aku hanya mampu berharap dan berdo'a, agar engkau sadar atas perbuatanmu terhadapku selama ini. Akuhanya mampu memohon supaya engkau selalu bahagia dengan setiap jalan yang engkau tempuh tanpaku, hanya hatiu yang memanggil namamu, menunjukkan betapa dalamnya rinduku padamu. Terimakasih banyak atas mana yang pernah kau beri dalam alur hidupku. Asal engkua ketahui, bahwa aku bahagia bertemu denganmu meski akhirnya aku terluka. Terimakasih...
Mungkin bagimu aku bukanlah siapa- siapa, bukan teman dekatmu, bukan pula sahabat karibmu, tapi selama ini aku telah menganggapmu sebagai temanku yang baik. Aku tahu, sebagian besar kata yang pernah keluar dari mulut manismu hanyalah anonim, bukan suatu kesungguhan. Mungkin selama ini dirimu bermaksud untuk tidak membuat diriku terluka, tapi justru sebaliknya. Bagimu semua itu biasa- biasa saja, tapi engkau tidak melihat ke sisi dalam hatiku, tentang bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya, jujur aku terluka. Tapi aku tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengatakan padamu bahwa hatiku menangis akan sikapmu yang acuh terhadapku. Sadarkah kau betapa sakitnya luka yang kau hampirkan padaku? aku telah mencoba menjadi yang terbaik untukmu, tapi mengapa semua usahaku telah kau tepis? tidak pula engkau menghargainya. Saat ini aku hanya mampu berharap dan berdo'a, agar engkau sadar atas perbuatanmu terhadapku selama ini. Akuhanya mampu memohon supaya engkau selalu bahagia dengan setiap jalan yang engkau tempuh tanpaku, hanya hatiu yang memanggil namamu, menunjukkan betapa dalamnya rinduku padamu. Terimakasih banyak atas mana yang pernah kau beri dalam alur hidupku. Asal engkua ketahui, bahwa aku bahagia bertemu denganmu meski akhirnya aku terluka. Terimakasih...
0 Response to "Tatkala Sang Nurani Terluka"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Posting Komentar